-
Festival Omed-omedan digelar setiap tahun, sehari setelah perayaan
Hari Raya Nyepi. Tujuannya adalah memohon keselamatan dan kesehatan bagi
mereka yang ikutserta dalam tradisi ini, juga sebagai penolak bala bagi
desa setempat.Seiring dengan perkembangan zaman, terkadang sebagian peserta memanfaatkannya sebagai ajang cari jodoh bagi mereka yang masih jomblo.
-
Festival yang berlangsung di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar,
Selasa (1/4), cukup meriah. Banyak sekali pemuda dan pemudi setempat
yang berpartisipasi.
-
Festival diawali dengan sembahyang bersama di Pura Banjar. Seluruh
peserta wajib mengikuti prosesi ini. Setelah sembahyang, para pemuda dan
pemudi mulai dipisahkan dalam dua kelompok, yaitu kelompok cowok dan
cewek.
Seorang gadis diangkat, untuk dipertemukan dengan seorang pria yang akan menciumnya | Foto Agung Parameswara
-
Para pemuka adat, atau tetua desa, bertindak menjadi “wasit” dalam festival ciuman massal
ini. Setelah tetua memberi aba-aba, kedua kelompok cowol dan cewek yang
saling berhadapan akan mengangkat salah seorang wakilnya untuk
dipertemukan dengan wakil dari kelompok lain.Setelah itu, terjadilah adu mulut yang sesungguhnya. Bukan adu mulut seperti saling memaki atau perang kata-kata, melainkan mulut beradu mulut. Biasanya sih, peserta cowok yang paling bernafsu melumat bibir “lawannya” yang masih malu-malu.
-
Untuk menghindari ciuman yang makin panas, panitia dan para tetua
akan segera mengguyurkan air ke tubuh cowok-cewek yang sedang ciuman.
Wah…, basah dong! Jadi, kalau ada penonton, wartawan, atau wisatawan
yang terlalu dekat, mereka bisa basah kuyup terkena guyuran air.
Untuk mendinginkan suasana, pantia mengguyurkan air ke cowok-cewek yang sedang berciuman | Foto: Agung Parameswara
-
Tradisi Omed-omedan sudah berlangsung sejak abad ke-17. Sebelumnya,
festival ini dilakukan pada saat Hari Raya Nyepi. Namun sejak tahun
1978, atau masa Orde Baru, diputuskan untuk menggantinya pada saat
Ngembak Geni, atau sehari setelah Hari Raya Nyepi.Festival Omed-omedan diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Tanpa disadari, acara ini juga dapat meningkatkan rasa solidaritas dan kesetiakawanan antarwarga, terutama pemuda dan pemudi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar